Musim dingin ini adalah musim dingin pertama sejak aku melangkahkan kaki di kota ini..huff..semuanya menjadi terasa begitu berat saat pikiranku kembali ke kota lama, tempat segalanya – yang tanpa pernah kubayangkan sebelumnya – akan aku tinggalkan, mungkin memang bukan untuk selamanya, tapi yang jelas bukan untuk waktu yang sebentar.
Kuambil kain penutup kepalaku dan dalam hitungan detik kain itu telah rapi menutup rambut serta bagian kepalaku yang lain hingga hanya menyisakan raut wajahku. Aku kembali teringat kapan pertama kali aku harus mengenakan kain segiempat ini. Aku harus menghabiskan 60 menit di depan cermin dan hanya berakhir dengan pandangan ketidakpuasan karena sepertinya kain ini terlalu sulit kukendalikan. Terlalu kaku, terlalu lebar, membuat gerah, belum lagi pandangan orang-orang yang sepertinya memandang aneh. Perlu waktu 7 tahun hingga pada akhirnya aku sadar bahwa semua itu hanya alasan yang kubuat-buat. Perlu waktu 7 tahun hingga pada akhirnya aku ikhlas untuk selalu mengenakannya, bukan hanya sebagai kewajiban tetapi telah menyadari bahwa inilah diriku seharusnya.
Kupatut diriku di cermin untuk terakhir kalinya, walaupun aku selalu tahu segala di diriku tak akan berubah, tubuhku takkan bertambah tinggi dan wajahku takkan bertambah tirus. Kecuali tanda-tanda kedewasaan– istilah halus untuk penuaan yang sering kugunakan– seorang wanita seperempat abad yang tidak bisa dielakkan. Mulai memilih-milih produk eye cream yang belum pernah kugunakan sebelumnya gara-gara membaca satu artikel majalah kecantikan. Juga menambah satu ritual baru sebelum tidur yaitu mengoleskan night cream di wajahku. Entah akan berhasil atau tidak, paling tidak suatu saat nanti di masa depan, aku tidak akan terbebani perasaan bersalah akibat dari sesuatu yang tidak aku lakukan di masa 20an ku.
Aku melirik sekilas jam tanganku dan menyadari seharusnya sudah sejak 15 menit yang lalu aku beranjak dari sini. Kuambil mantel dan dengan cepat kukenakan sepatuku. Begitu aku sampai diluar, udara musim dingin menyambutku, .. bukan.. tapi menyergapku, dengan paksa, karena seketika yang kurasakan hanya perih di wajahku. Dulu aku juga merasakan pening di kepala setiap kali ini terjadi tapi kini tidak lagi, mungkin karena sudah terbiasa. Kukaitkan kancing terakhir mantelku sambil melafalkan doa agar aku tenang di perjalanan, tahu bahwa ada yang selalu melindungiku selama aku selalu mengingat-Nya. Bibirku mengucapkan syukur karena tidak lupa mengenakan beberapa lapis pakaian sehingga aku tidak akan kedinginan. Sambil berjalan, aku berbicara pada diriku sendiri hingga kapan aku bisa terbiasa dengan semua ini? Tak akan pernah sama, segalanya tak akan pernah sama. Orang tua, kakak, adik, sepupu-sepupu sebaya, keluarga besarku..Aku pernah berfantasi kalau saja aku punya kekuatan yang bisa membaca pikiran seseorang, memaksa masuk ruang di otaknya dan mengerti apa yang mereka pikirkan tentangku. Aku berjanji tidak akan sakit hati, aku akan menerima itu semua. Tapi jelas tidak mungkin, aku bukan paranormal atau orang-orang berkekuatan supranatural. Hingga sekarang aku hanya bisa mengerti dan tahu bahwa mereka berpikir positif tentangku, memberikan dorongan padaku untuk melakukan ini.Semoga ini semua benar. Penilaian mereka, keputusanku.
Aku hanya perlu menunggu 5 menit hingga kereta bawah tanah yang akan membawaku ke suatu tempat datang, mengingat aku sedikit terlambat berangkat dari rumah tadi. Aku kembali mengucap syukur aku tidak ketinggalan kereta jam ini. Tak bisa kubayangkan kalau aku harus menunggu kereta berikutnya. Entah berapa lama aku harus menunggu, belum lagi udara dingin yang menyiksa juga perasaan tidak enakku pada seseorang yang akan kutemui di ujung perjalanan nanti. Stasiun bawah tanah hari ini tidak begitu sesak, mengingat hari ini bukan akhir minggu, dan ini masih jam kerja. Hanya ada beberapa orang menunggu kereta yang sama denganku. Aku memilih tempat duduk di ujung gerbong yang kosong. Perjalanan kali ini akan kutempuh dalam waktu 1,5 jam. Cukup lama, tapi aku yakin aku tidak akan tertidur karena kebosanan. Pikiranku terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu dengan tertidur. Kulayangkan pandanganku ke sekeliling gerbong. Kuhitung dengan cepat ada 11 orang termasuk aku dan seorang anak perempuan kulit putih kira-kira berusia 6 tahun. Anak itu memandangku dengan matanya yang biru, kuberikan seulas senyumku dan ia membalasnya. Betapa lucunya! Seperti apa aku saat usiaku seusianya? Yang tahu hanya main dan main, dunia hanya arena bermain, tidak perlu mengambil keputusan penting sendiri karena ada orang lain yang melakukan segalanya untukku, bahkan memilihkan baju yang akan aku kenakan setiap pagi dan sore setelah mandi. Tapi aku ingat satu hal di usia 6 tahunku yang ternyata sangat berkaitan dengan yang aku alami saat ini. Aku selalu ingin ada di tempat lain, di negara lain, berbicara bahasa lain yang sama sekali berbeda dengan bahasa ibuku, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang lain, yang sama sekali berbeda denganku. Kata orang-orang aku hanya anak kecil yang terlalu banyak menonton tivi. Tapi kuingat ibuku selalu berkata bahwa aku bisa, suatu hari nanti, akan kulakukan. Lalu akutumbuh seiring usiaku yang bertambah. Dan mimpi itu semakin terkubur seiring waktu, aku bertambah dewasa, bertambah logis, lebih sibuk memikirkan baju apa yang akan kupakai di pesta ulang tahun si A sabtu nanti ketimbang berusaha untuk mewujudkan mimpiku itu, hingga aku lupa sama sekali, hingga saat ini, saat mimpi yang tak pernah berusaha aku raih itu benar-benar terwujud. Hati-hati dengan mimpimu - pikirku sinis - mimpi yang ternyata tanpa kau sadari tertanam di bawah alam sadarmu, yang dengan tiba-tiba sungguhan terjadi tanpa bertanya dulu pada dirimu apakah kamu siap atau tidak untuk menerima dan menjalaninya. Hati-hati dengan mimpi sederhanamu, karena kau takkan pernah tahu yang awalnya kau pikir sederhana ternyata rumit, sulit dan butuh konsekuensi besar. Sebelum berani bermimpi, beranikan dulu dirimu untuk melihat kenyataan di depan matamu, di kehidupanmu, atau paling tidak di kehidupan orang-orang di sekitarmu dan pahami masalah mereka karena bukan hal yang mustahil masalah itu akan kamu hadapi juga.
Kereta ini telah tiga kali berhenti di stasiun-stasiun yang dilewatinya untuk mengangkut penumpang. Dan aku telah berhenti menghitung penumpang yang naik sejak pemberhentiannya yang pertama. Untuk apa dan toh jari tanganku sudah tidak dapat membantuku menghitung. Aneh memang, aku selalu merasa membenci angka, tapi aku malah kuliah di jurusan yang selalu berkutat dengan angka dan kalkulator adalah benda digital wajib di tas selain ponsel tentu saja, dan kebiasaanku menghitung tetap kulakukan hingga sekarang tanpa aku sadari. Menghitung apa saja, apa saja yang bisa dihitung. Buku-buku di rak perpustakaan, susunan balok yang disusun sepupu kecilku, kardus yang diangkut truk yang melintas di depan rumahku, juga banyaknya orang yang satu gerbong denganku seperti yang baru saja kulakukan. Aku baru merasa bahwa kebisaanku menghitung dan mengingat angka adalah tidak lazim, sewaktu atasanku - saat masih bekerja- dengan iseng bertanya padaku nomor pegawai salah satu karyawan di tempatku bekerja. Aku dengan yakin menjawab 8 digit nomor pegawai karyawan itu dan tentu saja tepat. Bukannya terkesan, atasanku malah memandangku dengan heran atau malah aneh – aku tidak tahu pasti -. Yang pasti kemudian aku sadari bahwa hal itu tidak perlu aku ketahui karena jumlah karyawan di perusahaan tempatku bekerja mendekati ribuan orang.
Tiba-tiba pikiranku kosong. Mungkin akibat flash back-flash back yang berputar-putar di kepalaku tanpa jelas. Kuaduk isi tasku untuk mencari pemutar MP3ku yang biasanya selalu kubawa, paling tidak aku bisa sedikit santai dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Tapi lalu aku ingat aku sengaja meninggalkannya di rumah tadi, berniat perjalanan yang akan kulakukan akan kuhabiskan dengan menikmatinya sendiri, tanpa harus mendengarkan lagu-lagu mellow, yang telah menghabiskan sebagian besar memory pemutar mp3 ku, dan yang akan memaksa moodku berubah. Membiarkan dengan pasrah kemana pikiran ini akan membawaku berkelana.Mengunjungi kembali masa kecilku, masa remajaku, masa kebebasanku sebagai mahasiswi, masa-masa yang tak akan bisa kuulangi lagi, walaupun seberapa besar aku menginginkan untuk mengulang waktu, menghapus kesalahan-kesalahan yang kuperbuat karena ketidaktahuanku. Tapi inilah hidup. Kupikir semua orang mengalaminya. Penyesalan yang berlebihan hanya berbuah kepedihan, tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah kini dan masa depan. Yang terpenting sekarang adalah kita tahu kesalahan di masa lalu kita, dan berjanji padaNya dan pada hati kita sendiri bahwa tak akan terjadi lagi. Pilihan hidup ada di tangan kita masing-masing. Pendapat orang lain memang terlalu berharga untuk hanya dijadikan angin lalu, tapi jangan pula membuatmu kehilangan jati diri dan mengabaikan hati nurani.
Aku menghela napas pendek. Pikiranku kembali melayang. Apa yang kucari disini? Di tempat yang asing ini? Apakah kebahagiaan dan ketenangan yang kucari akan kudapatkan di sini? Di tempat yang asing ini? Kereta kembali berhenti, beberapa orang turun digantikan dengan orang-orang yang naik pula. Seorang remaja laki-laki berambut ikal coklat didepanku memandang lurus kedepan menembus kepalaku dan jendela di belakangku, sepertinya berpikir sesuatu, tanpa memperdulikan mata kami yang jelas-jelas bertubrukan. Kualihkan pandanganku ke tampat lain. Di sebelah remaja laki-laki itu, seorang remaja perempuan bermata hijau mengangguk-anggukkan kepala, mungkin seiring lagu yang didengarkannya lewat earphone yang menyumbat di telinganya.
Kutebarkan pandanganku ke arah lain, baru kusadari sekarang, sebagian besar dari mereka menyumbat telinganya dengan earphone, entah mendengarkan musik apa. Mungkin bisa saja aku menebaknya dengan melihat gerakan kepala atau dari usia mereka, bahkan dari cara berpakaian. Tapi untuk sekarang aku sedang malas tebak-tebakkan dengan diriku sendiri. Mungkin lain kali. Aku memandang keluar untuk tahu berapa lama lagi aku harus berada di gerbong ini. Mengetahui hanya dalam waktu 30 menit aku sudah sampai tempat yang kutuju, dilemma tiba-tiba menyerang. Di satu sisi aku ingin cepat-cepat sampai, naik ke permukaan jalan raya dan menghirup udara segar karena tiba-tiba udara di dalam gerbong ini aku rasakan sangat sesak, entah karena memang begitu atau hanya karena paru-paruku terhimpit sejuta pertanyaan dari pikiranku. Di lain sisi aku ingin lebih lama sendiri, kembali berpikir, menjawab pertanyaan yang kulontarkan sendiri, menyelesaikan masalah yang kubuat sendiri, meyakinkan keraguan-keraguanku.
Tapi, jarak adalah hal yang pasti, sementara waktu yang kubutuhkan jelas sangat kabur. Aku tak bisa tahu dengan pasti berapa banyak waktu yang kubutuhkan. Akhirnya aku sampai di stasiun yang kutuju. Dua minggu lalu saat aku tahu tentang hari ini, aku sedikit kesal, apakah tidak bisa lebih cepat, karena aku butuh jawaban cepat, aku tidak bisa menunggu dua minggu, aku butuh jawaban cepat, kalau perlu saat itu juga. Tapi hari ini aku malu sendiri, ternyata aku tidak siap, parahnya aku tidak tahu apa yang harus aku persiapkan. Kulangkahkan dengan paksa kakiku keluar gerbong 1,5 jamku. Sedikit menyesal karena waktu 2 minggu ditambah 1,5 jam di dalam gerbong kereta ternyata tidak cukup untuk membuatku tahu dengan pasti apa yang harus kulakukan. Keputusan itu, keinginan itu, mimpi-mimpi itu. Sambil berjalan menuju tangga menuju permukaan jalan raya, aku kembali menghela napas panjang, berpikir positif bahwa mungkin saja dengan memasukkan oksigen banyak-banyak ke paru-paruku membuat pekerjaan rumahku selama dua minggu ini, yang membuatku terjaga selama 14 malam, bisa kutemui kesimpulannya entah dengan mukjizat apa. Aku hanya berjarak 5 menit darinya.
Akhirnya kupasrahkan detik—detik terakhir ini padaNya. Dua minggu aku memohon petunjuk, kuminta jawabanNya, tapi aku sadar aku siapa. Aku tetap saja belum bisa menangkap petunjukNya, jawabanNya. Kemudian aku meyakini, apapun yang terjadi adalah kehendakNya, kuasaNya, aku hanya makhluk lemahNya yang tidak berdaya. Keputusan terkecil pun tidak akan lepas dari kuasaNya, apalagi keputusan sebesar ini. Sungguh, aku sebagai manusia hanya setitik pasir di luas lautanNya.
Setelah menyeberangi dua perempatan besar dan berjalan sepanjang 2 blok dengan kecepatan sedang – aku sudah tidak menghiraukan lagi berapa lama aku telah terlambat memenuhi janjiku – akhirnya aku berdiri disini, memandangnya..Dia berdiri disana, di dalam kotak tembus pandang di tepi jalan. Berbalut mantel berwarna gelap yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, wajahnya memerah menandakan dia kedinginan, mungkin dia sudah lama ada disitu. Aku berdiri kira2 hanya 10 meter darinya. Tetapi aku tidak segera mendekat dan menyapanya, aku ingin berdiri disini dulu sebentar, hanya untuk memandangnya, dengan curi-curi tanpa dia ketahui. Bukan..bukan memandangnya dengan pandangan seorang perempuan pada laki-laki yang kemudian membawa pikiran ke imajinasi orang dewasa. Bukan..bukan pandangan yang seperti itu. Mataku memang memandang kearahnya, tapi hatiku memandang ke hal lain. Masa sekarangku, masa depanku, bagaimana kami bersama tumbuh yang awalnya mungkin penuh emosi tapi kemudian hanya menyisakan kedamaian, bagaimana kami bersama tumbuh yang awalnya penuh liku-liku tapi kemudian hanya menyisakan hal indah untuk diceritakan. Aku memandangnya dengan pandangan seperti itu.
Tiba-tiba pandanganku dan pandangannya bertabrakan, dia baru saja menyadari keberadaanku, dan langsung kudapatkan senyum di wajahnya. Aku tahu senyum itu hanya untukku, dan seketika semua perasaan yang bergejolak itu semakin lenyap, seiring kuatnya hatiku mengatakan bahwa ini adalah tepat, ini adalah benar. Ya Alloh, ternyata aku tidak butuh 1,5 jam , apalagi dua minggu yang menyiksa, yang aku butuhkan hanya saat ini, detik ini, saat kudapatkan senyumannya hanya untukku. Saat itu juga aku tahu apa keputusanku, yang akan mewujudkan keinginan-keinginanku, bahkan mimpi-mimpiku saat kecil. Aku tahu, ini mukjizat yang aku tunggu-tunggu. Ingin segera kusampaikan padanya, karena mungkin ini juga yang dia tunggu-tunggu.
Aku sadar wajahku pasti memerah saat ini, tapi kuharap dia tidak menyadarinya, aku malu. Kutarik ucapanku, tepatnya pikiranku tadi tentang mimpi masa kecil. Jangan pernah takut bermimpi. Bermimpilah, bahkan tentang hal-hal tidak logis dan aneh, lalu tanamkan dalam-dalam di otakmu, pikirkan bahwa hidupmu akan selalu bisa menjadi lebih baik.Dan jangan pernah terkejut kalau tiba-tiba mimpi itu terjadi, karena sesungguhnya itu adalah salah satu anugerah besar yang Alloh berikan untukmu agar kamu selalu mengingat untuk bersyukur.
(27 november 08 – 9.32pm, keping-keping cerita yang ternyata lebih indah jika dituturkan bersama)